Instalasi pipa di fasilitas pengisian gas, khususnya untuk tabung LPG 3 kg, merupakan komponen paling kritis yang menentukan keselamatan operasional dan efisiensi distribusi. Berbeda dengan instalasi air atau udara bertekanan rendah, pipa untuk distribusi LPG (Liquefied Petroleum Gas) harus mampu menangani karakteristik gas yang mudah terbakar, memiliki tekanan uap tinggi, serta sifat kimiawi yang dapat memicu degradasi material tertentu. Kesalahan dalam pemilihan material pipa bukan hanya berisiko pada kerugian materi, tetapi juga mengancam nyawa dan kelangsungan bisnis.
Dalam industri migas, termasuk tempat pengisian gas 3 kg, standar emas yang digunakan adalah pipa baja karbon tanpa sambungan atau Seamless Carbon Steel Pipe. Pipa ini umumnya harus memenuhi spesifikasi internasional seperti ASTM A106 Grade B atau API 5L.
Alasan utama penggunaan pipa seamless adalah ketiadaan garis las (sambungan memanjang) pada badan pipa. Pada pipa yang memiliki sambungan las, titik lasan tersebut menjadi titik terlemah yang rentan terhadap retakan saat menghadapi tekanan tinggi atau perubahan suhu ekstrem. Gas LPG di dalam instalasi pengisian sering kali berada dalam fase cair bertekanan; pipa seamless memberikan integritas struktural yang seragam di seluruh penampang pipa, meminimalisir risiko kebocoran gas yang fatal.
Pemilihan pipa harus didasarkan pada perhitungan Schedule (ketebalan dinding pipa). Untuk fasilitas pengisian gas LPG, penggunaan pipa dengan Schedule 40 atau Schedule 80 adalah standar minimal yang umum diterapkan. Pipa dengan dinding yang lebih tebal (Sch 80) sering kali dipilih untuk area yang berdekatan dengan pompa atau kompresor, di mana getaran dan fluktuasi tekanan (surge pressure) paling sering terjadi. Ketebalan ini penting tidak hanya untuk menahan tekanan internal gas, tetapi juga untuk memberikan margin keamanan terhadap korosi eksternal akibat cuaca atau kelembapan di area pengisian.
Meskipun baja karbon memiliki kekuatan mekanis yang luar biasa, ia sangat rentan terhadap karat. Di tempat pengisian gas yang sering kali bersifat terbuka, pipa terpapar langsung dengan oksigen dan kelembapan. Oleh karena itu, pemilihan pipa harus dibarengi dengan sistem perlindungan korosi yang mumpuni.
Metode yang paling umum adalah penggunaan pipa hitam yang dicat dengan sistem epoxy atau pelapisan khusus anti-karat. Warna kuning biasanya digunakan sebagai identifikasi standar internasional untuk jalur gas. Selain pengecatan, untuk pipa yang ditanam di bawah tanah (underground), penggunaan pipa dengan lapisan 3LPE (Three-Layer Polyethylene) atau sistem perlindungan katodik sangat disarankan guna mencegah korosi galvanik yang dapat melubangi pipa dari luar tanpa terlihat oleh mata.
Pipa yang bagus tidak akan berfungsi optimal jika sambungannya lemah. Untuk fasilitas pengisian gas 3 kg, sambungan antar pipa harus menggunakan sistem Welded Fittings (sambungan las) atau Flanged Connections dengan kelas tekanan yang sesuai (misalnya Class 150 atau Class 300 sesuai standar ASME).
Sangat tidak disarankan menggunakan sambungan ulir (threaded) untuk jalur utama gas bertekanan tinggi karena risiko kebocoran pada sela-sela ulir sangat besar akibat getaran mesin. Setiap material sambungan, mulai dari elbow, tee, hingga reducer, harus memiliki spesifikasi material yang identik dengan pipa utamanya untuk memastikan koefisien muai panas yang sama dan mencegah tegangan mekanis pada titik sambung.
Pada titik akhir di mana gas dialirkan ke dalam tabung 3 kg, penggunaan pipa kaku sering kali dikombinasikan dengan Flexible Hose khusus LPG. Pemilihan selang fleksibel ini harus sangat selektif; materialnya harus berupa anyaman baja tahan karat (stainless steel braided) dengan bagian dalam berbahan sintetis yang tahan terhadap penetrasi hidrokarbon. Selang ini harus memiliki sertifikasi tekanan pecah (burst pressure) yang jauh di atas tekanan kerja operasional untuk mengantisipasi lonjakan tekanan mendadak saat pengisian berlangsung secara massal.